
BANDUNG -“Ku korbankan
diriku di penjara ini, demi bangsa dan negaraku,” itulah ucapan Ir. Soekarno
yang terpampang di dinding penjara Banceuy blok F nomer 5. Ruang kecil yang
lebarnya hanya satu setengah meter itu menyiratkan begitu kejamnya kolonial
Belanda pada masa penjajahan. Penjara kelas rendah yang mengurung seorang
pahlawan negeri ini, menyimpan jejak perjuangan bangsa Indonesia mencapai
kemerdekaannya.
Mimpi buruk para
pejuang bangsa, ketika suara perjuangan harus tersendat dinding semen satu
setengah meter yang separuhnya sudah terpakai tidur, benar-benar sudah seperti
peti mati. Adalah satu hektar tanah pada suatu tempat di Bandung berjajar
puluhan sel penjara dengan pekarangan yang kotor, tidak berjendela, tidak pula berjejarak
supaya bisa mengintip keluar, apalagi tempat untuk menjenguk. Pintunya terbuat
dari besi dengan sebuah lobang kecil, “lobang ini ditutup dari luar, penjaga
dapat melihat kedalam akan tetapi ia tertutup buat kami,”tutur Soekarno sang
penyambung lidah rakyat.
Pada abad
pertengahan didirikannya, ada dua macam sel yang mengurung tahanan, yang satu
untuk tahanan politik dan satunya lagi untuk tahanan pepetek. Pepetek
sebangsa ikan murah dan menjadi makanan orang yang paling miskin di negeri ini,
adalah sebutan untuk rakyat jelata. Pepetek
tidur di lantai semen dan mereka para tahanan politik tidur di atas kasur besi beralas tikar rumput
setebal karton. Didalamnya terkurung tubuh Presiden pertama Indonesia Ir.
Soekarno yang ditangkap karena aktivitas perjuangannya bersama Partai Nasional
Indonesia (PNI). Penjara kotor itu hanya mengurung tubuhya sedangkan
gagasan-gagasannya tetap ada untuk bangsa, ide tidak bisa dikurung dalam
penjara. Lebih besar daripada orang besar, ialah ide yang bersamayam dalam diri
Soekarno.
29 Desember 1929
Bersama para aktivis yang lain yakni Maskoen, Soepriadinata, dan Gatot
Mangkoepraja, Soekarno dikurung selama 1 tahun. Segera setelah mereka masuk
penjara, rambutnya di potong hingga hampir botak. Pakaiannya diganti dengan
pakaian biru bernomor dibelakangnya, “Rumahku adalah Blok F,” ucapan Soekarno
yang tertulis dalam bukunya Penyambung Lidah Rakyat. Suatu petak yang terdiri
dari 36 sel dan 32 buah yang masih kosong menghadap ke pekarangan yang kotor.
Mulai dari ujung, maka 4 nomor berturut-berturut telah terisi. Di sampingnya terdapat sumur tempat mandi
para tahanan, berbaris mereka mandi bergiliran sambill telanjang. Untuk buang
air, disediakan wadah kaleng usang dan berkarat di sudut sel.
Tak ada roti ataupun susu, yang ada hanya seonggok nasi merah ditambah
sambal untuk mereka makan.
Tidak ada apapun
selain kasur besi dan kaleng tempat buang air. Namun dari keterbatasan itu,
seorang perempuan yang mencintai Soekarno datang dengan harapan. Inggit Garnasih
isteri pertama presiden Soekarno kerap menjenguknya seminggu sekali. Pena hitam
diselipkan di sebungkus rokok yang diberi Inggit, maka dari kertas rokok itu
pula soekarno menulis pesan untuk negerinya ditemani cahaya cempor. Sebegitu
cepat pula Inggit menyebar pesan itu pada rakyat yang hilang harap, hingga
semangat kembali berkecambuk di segenap bangsa Indonesia.
Begitu kuat
hingga menggetarkan seluruh penjuru dunia, bagai hembusan angin yang
mengobarkan api semangat para pejuang tanah air. Naskah Indonesia Menggugat
yang dibacakan dengan lantang oleh Soekarno pada sidang pengadilan di gedung
Landraad, adalah luapan pemikiran Soekarno di balik penjara Banceuy, jeruji
besi gelap yang tak manusiawi itu tak akan pernah menumpulkan hasrat
kemerdekaan yang menjadi impian bangsa. Indonesia telah menggugat penindasan
yang dilakukan kolonial Belanda selama bertahun-tahun lamanya.
Pada tahun 1985
penjara Banceuy telah dipindah ke jalan Soekarno Hatta, yang tersisa kini hanya
kamar sel blok F nomer 5 dengan tulisan-tulisan
Soekarno selama beliau di kurung 1 tahun lamanya. Situs sejarah yang dijaga
hingga kini karena menyimpan banyak cerita di balik ruangan dua setengah meter
itu. Mengajarkan pada segenap bangsa Indonesia, bahwa ide takan bisa dikurung,
gagasan dan semangat yang teguh takkan pernah tumpul meski dibelenggu tembok
terkokoh di dunia ini. [] Iqbal Pratama Putra
Labels:
feature
Thanks for reading Banceuy Jejak Perjuangan Bangsa . Please share...!
0 Comment for "Banceuy Jejak Perjuangan Bangsa "