Ini adalah peristiwa yang bukan
kebetulan. Tepat tanggal 23 Oktober 2014 saya melakukan perjalanan menuju Kota
Reog Asli alias kota Ponorogo, Jawa Timur. Korea, begitu warga asli Ponorogo biasa
menyingkatnya. Seni kebudayaan yang sempat diklaim oleh negara Malaysia sebagai
kebudayaan mereka itu, menjadi icon
utama yang membuat Kabupaten Ponorogo
semakin ternama. Siapa tak kenal Reyog Ponorogo? Topeng berkepala singa dengan
bulu-bulu cantik burung merak diatasnya memiliki berat sekitar 5 kg. Menurut beberapa
masyarakatnya, tidak sembarangan orang bisa memakai topeng tersebut. Karena bebannya
yang cukup berat maka hanya mereka yang dirasuki makhluk ghaib (kesurupan) saja
yang bisa memakainya.
Perjalanan menuju Ponorogo saya tempuh hampir
16 jam lamanya. Saya memilih kendaraan bis Harum Prima dari terminal Cicaheum
Bandung, karena hanya bis itulah yang sampai di terminal Selo Aji, Kab.
Ponorogo. Selain itu, tak ada kendaraan darat lain yang pemberhentiannya di
terminal Ponorogo. Anda bisa mendapat tiket itu dengan harga Rp. 140.000. Berbeda
jika anda membeli tiket di agen Harum yang ada di Ponorogo, hanya dengan
Rp.125.000 anda sudah bisa mengadakan perjalanan kembali ke kota Bandung. Bis yang
digunakan pun termasuk nyaman dengan fasilitas AC dan toilet di dalamnya.
Namun
selain menggunakan bis, perjalanan menuju Ponorogo bisa ditempuh lebih cepat
menggunakan kereta api. Dengan harga tiket Rp. 55.000 (ekonomi), perjalanan
yang berawal dari stasiun Kiaracondong Bandung dan berakhir di stasiun Madiun selama
7 jam bisa anda nikmati. Kondisi Ponorogo yang belum memiliki stasiun kereta, membuat pemberhentian penumpang tujuan
Ponorogo harus berakhir di kota Madiun. Selanjutnya perjalanan bisa dilanjutkan
mengguakan angkutan bis mini tujuan Ponorogo. Cukup ribet bagi saya karena harus turun-naek kendaraan lebih dari satu
kali, apa lagi saya membawa banyak barang bawaan. Karena itulah saya lebih
memilih bis dari pada kereta. Walaupun perjalanan yang di tempuh cukup lama,
tapi saya tidak perlu repot-repot memindah-mindahkan barang bawaan saya.
Pukul
17.30, bis pun tiba dihadapanku dan siap mengantarkanku menuju kota Reog itu.
Awalnya tujuan utama saya berangkat ke Ponorogo adalah untuk menghadiri acara Reoni
Akbar yang diselenggarakan Pesantren Putri Al-Mawaddah, Madrasah Aliyyah saya
satu setengah tahu yang lalu. Namun ternyata kedatangan saya ke sana bertepatan
dengan acara Festival Reyog Nasional tahun XXI dan Perayaan Gerebeg Suro tahun
2014.
Tentunya
kesempatan emas ini tidak saya sia-siakan. Sesampainya di Ponorogo, Segera saya
bergegas menuju pusat acara diselenggarakan, yaitu di Alun-alun Kab. Ponorogo.
Sepanjang perjalanan menuju alun-alun, sambil menikmati hembusan angin Ponorogo
yang berhembus menembus jendela angkot tujuan alun-alun, saya pun
berbincang-bincang dengan supir angkot bernama Miswanto yang duduk tepat di
samping saya.
Angkutan
umum di Ponorogo sudah tidak sebanyak 4 tahun
lalu ketika saya masih menjadi santriwati di kota ini. Mayoritas
masyarakatnya yang memiliki kendaraan pribadi membuat pengusaha angkot menarik
diri sedkit demi sedikit, hingga menyisakan beberapa saja yang masih bertahan
untuk terus beroprasi. Namun bagi para wisatawan luar tak perlu khawatir,
karena ojeg-ojeg kendaraan roda dua dan becak masih banyak tersedia untuk melayani mereka.
Acara
perayaan Gerebeg Suro tahun 2014 dan Festival Reyog Nasional tahun XXI yang
diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Ponorogo merupakan wujud kebersamaan
pemerintah dan masyarakat dalam rangka pelestaraian budaya, meningkatkan
ekonomi masyarakat dan promosi wisata daerah. Keterangan itu saya dapatkan dari
sebuah spanduk yang terpasang tepat di depan kantor DPRD Kab. Ponorogo.
Festival Reyog Nasional ke XXI
yang berlangsung sejak 18 oktober hingga 24 oktober kemarin menampilkan beragam
kebudayaan dari hampir seluruh provinsi yang ada di Indonesia. perayaan tersebut
memang selalu diselenggarakan setiap tahunnya oleh masyarakat Ponorogo untuk
melestarikan kebudayaan Reyog.
Selain Festival Reyog, Kab. Ponorogo juga
menyelengggarakna acara Gerebeg Suro. Perayaan Gerebeg Suro yang bertepatan
dengan 1 Muharram 1435 H, merupakan tahun baru dalam kalender Jawa. Karena
itulah 1 Suro selalu diperingati masyarakat Jawa, termasuk Ponorogo. Rentetan
acara Gerebeg Suro dimulai dari pemberangkatan pertama yang bermula dari makam
Betoro Katong dan berakhir di Pendopo Alun-alun Ponorogo.
Selama perjalanan rombongan
warga Ponorogo membawa iring-iringan makanan nasi Kuning (tumpeng) bserta lauk
pauknya dan makanan hasil bumi lainnya. Dalam barisan rombongan, seluruh
jajaran pemerintahan kabupaten Ponorogo nampak berada di barisian terdepan. Termasuk
di dalamnya Bupati dan Wakil Bupati Ponorogo, DPRD, seluruh Camat dan lain
sebagainya.
Setelah
rombongan sampai di Pendopo Alun-alun yang telah dipenuhi baik oleh warga
Ponorogo sendiri atau dari penduduk luar Ponorogo seperti saya, arak-arakan pun
siap di sucikan. Yang berhak atas pensucian hasil bumi tersebut adalah para
Penjamas. 
Mereka adalah orang-orang penting yang memang diamanahi melakukan pensucian tersebut. Keterangan itu diperoleh berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari salah seorang warga asli Ponorogo bernama Supri Puryanti (20).

Mereka adalah orang-orang penting yang memang diamanahi melakukan pensucian tersebut. Keterangan itu diperoleh berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari salah seorang warga asli Ponorogo bernama Supri Puryanti (20).
Kirab
adalah puncak acara Gerebeg Suro sekaligus penutup rangkaian acara perayaan Gerebeg
Suro tahun 2014 dan Festival Reyog Nasional tahun XXI yang dilakukan ke-esokan
harinya. Kirab merupakan kegiatan “menyuguhkan” beberapa tumpeng kumplit dengan
lauk pauknya ke Telaga Ngebel Ponorogo, sebagai sesembahan kepada alam.
Itulah
perjalanan singkat nan asyik yang aku lewati selama berada di Ponorogo.
Tentunya atraksi kesenian Reyog pun tak luput dari perhatian.
Sebelum
kembali pulang ke kota Bandung, saya menyempatkan diri untuk membeli sedikit
oleh-oleh untuk keluarga dan kawan-kawanku yang ada di Bandung. Tak sulit mencari
makanan khas Kab. Ponorogo. Cukup datang ke pabrik dodol atau jenang Mirah,
yang terletak di Josari-Jetis-Ponorogo, saya sudah bisa menemukan beragam
makanan khas lainnya. Seperti brem Maduin, keripik buah Malang, bakpia Jogja,
dan masih banyak lagi oleh-oleh lainnya yang menyedot uang saku saya. Saya yakin anda pun akan puas jika berkunjung
kesana, KOREA (Kota Reyog Asli)-
Ponorogo.
Labels:
feature
Thanks for reading Festival Reyog Nasional ke- XXI. Please share...!
0 Comment for "Festival Reyog Nasional ke- XXI"