Ruang Publikasi Karya Tulis Jurnalistik Pribadi

"Sebutir pelurumu yang menembus kepalaku hanya akan membunuhku.Tapi tulisan dan buah pikiranku akan menembus jutaan kepala orang" _Sayyid Qutb_
Diberdayakan oleh Blogger.

Festival Reyog Nasional ke- XXI




Description: D:\IREZ\Reuni Akbar - seperempat abad Alma\IMG_5156.JPGIni adalah peristiwa yang bukan kebetulan. Tepat tanggal 23 Oktober 2014 saya melakukan perjalanan menuju Kota Reog Asli alias kota Ponorogo, Jawa Timur. Korea, begitu warga asli Ponorogo biasa menyingkatnya. Seni kebudayaan yang sempat diklaim oleh negara Malaysia sebagai kebudayaan mereka itu, menjadi icon utama yang membuat  Kabupaten Ponorogo semakin ternama. Siapa tak kenal Reyog Ponorogo? Topeng berkepala singa dengan bulu-bulu cantik burung merak diatasnya memiliki berat sekitar 5 kg. Menurut beberapa masyarakatnya, tidak sembarangan orang bisa memakai topeng tersebut. Karena bebannya yang cukup berat maka hanya mereka yang dirasuki makhluk ghaib (kesurupan) saja yang bisa memakainya.
 Perjalanan menuju Ponorogo saya tempuh hampir 16 jam lamanya. Saya memilih kendaraan bis Harum Prima dari terminal Cicaheum Bandung, karena hanya bis itulah yang sampai di terminal Selo Aji, Kab. Ponorogo. Selain itu, tak ada kendaraan darat lain yang pemberhentiannya di terminal Ponorogo. Anda bisa mendapat tiket itu dengan harga Rp. 140.000. Berbeda jika anda membeli tiket di agen Harum yang ada di Ponorogo, hanya dengan Rp.125.000 anda sudah bisa mengadakan perjalanan kembali ke kota Bandung. Bis yang digunakan pun termasuk nyaman dengan fasilitas AC dan toilet di dalamnya.
Namun selain menggunakan bis, perjalanan menuju Ponorogo bisa ditempuh lebih cepat menggunakan kereta api. Dengan harga tiket Rp. 55.000 (ekonomi), perjalanan yang berawal dari stasiun Kiaracondong Bandung dan berakhir di stasiun Madiun selama 7 jam bisa anda nikmati. Kondisi Ponorogo yang belum memiliki stasiun  kereta, membuat pemberhentian penumpang tujuan Ponorogo harus berakhir di kota Madiun. Selanjutnya perjalanan bisa dilanjutkan mengguakan angkutan bis mini tujuan Ponorogo. Cukup ribet bagi saya karena harus turun-naek kendaraan lebih dari satu kali, apa lagi saya membawa banyak barang bawaan. Karena itulah saya lebih memilih bis dari pada kereta. Walaupun perjalanan yang di tempuh cukup lama, tapi saya tidak perlu repot-repot memindah-mindahkan barang bawaan saya.
Pukul 17.30, bis pun tiba dihadapanku dan siap mengantarkanku menuju kota Reog itu. Awalnya tujuan utama saya berangkat ke Ponorogo adalah untuk menghadiri acara Reoni Akbar yang diselenggarakan Pesantren Putri Al-Mawaddah, Madrasah Aliyyah saya satu setengah tahu yang lalu. Namun ternyata kedatangan saya ke sana bertepatan dengan acara Festival Reyog Nasional tahun XXI dan Perayaan Gerebeg Suro tahun 2014.
Tentunya kesempatan emas ini tidak saya sia-siakan. Sesampainya di Ponorogo, Segera saya bergegas menuju pusat acara diselenggarakan, yaitu di Alun-alun Kab. Ponorogo. Sepanjang perjalanan menuju alun-alun, sambil menikmati hembusan angin Ponorogo yang berhembus menembus jendela angkot tujuan alun-alun, saya pun berbincang-bincang dengan supir angkot bernama Miswanto yang duduk tepat di samping saya.
Angkutan umum di Ponorogo sudah tidak sebanyak 4 tahun  lalu ketika saya masih menjadi santriwati di kota ini. Mayoritas masyarakatnya yang memiliki kendaraan pribadi membuat pengusaha angkot menarik diri sedkit demi sedikit, hingga menyisakan beberapa saja yang masih bertahan untuk terus beroprasi. Namun bagi para wisatawan luar tak perlu khawatir, karena ojeg-ojeg kendaraan roda dua dan becak masih banyak tersedia  untuk melayani mereka.
Acara perayaan Gerebeg Suro tahun 2014 dan Festival Reyog Nasional tahun XXI yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Ponorogo merupakan wujud kebersamaan pemerintah dan masyarakat dalam rangka pelestaraian budaya, meningkatkan ekonomi masyarakat dan promosi wisata daerah. Keterangan itu saya dapatkan dari sebuah spanduk yang terpasang tepat di depan kantor DPRD Kab. Ponorogo. Description: D:\IREZ\Reuni Akbar - seperempat abad Alma\IMG_4941.JPG 
Festival Reyog Nasional ke XXI yang berlangsung sejak 18 oktober hingga 24 oktober kemarin menampilkan beragam kebudayaan dari hampir seluruh provinsi yang ada di Indonesia. perayaan tersebut memang selalu diselenggarakan setiap tahunnya oleh masyarakat Ponorogo untuk melestarikan kebudayaan Reyog.
 Selain Festival Reyog, Kab. Ponorogo juga menyelengggarakna acara Gerebeg Suro. Perayaan Gerebeg Suro yang bertepatan dengan 1 Muharram 1435 H, merupakan tahun baru dalam kalender Jawa. Karena itulah 1 Suro selalu diperingati masyarakat Jawa, termasuk Ponorogo. Rentetan acara Gerebeg Suro dimulai dari pemberangkatan pertama yang bermula dari makam Betoro Katong dan berakhir di Pendopo Alun-alun Ponorogo. Description: D:\IREZ\Reuni Akbar - seperempat abad Alma\IMG_4937.JPG 
Selama perjalanan rombongan warga Ponorogo membawa iring-iringan makanan nasi Kuning (tumpeng) bserta lauk pauknya dan makanan hasil bumi lainnya. Dalam barisan rombongan, seluruh jajaran pemerintahan kabupaten Ponorogo nampak berada di barisian terdepan. Termasuk di dalamnya Bupati dan Wakil Bupati Ponorogo, DPRD, seluruh Camat dan lain sebagainya.
Setelah rombongan sampai di Pendopo Alun-alun yang telah dipenuhi baik oleh warga Ponorogo sendiri atau dari penduduk luar Ponorogo seperti saya, arak-arakan pun siap di sucikan. Yang berhak atas pensucian hasil bumi tersebut adalah para Penjamas. Description: D:\IREZ\Reuni Akbar - seperempat abad Alma\IMG_4933.JPG
Mereka adalah orang-orang penting yang memang diamanahi melakukan pensucian tersebut. Keterangan itu diperoleh berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari salah seorang warga asli Ponorogo bernama Supri Puryanti (20).
Kirab adalah puncak acara Gerebeg Suro sekaligus penutup rangkaian acara perayaan Gerebeg Suro tahun 2014 dan Festival Reyog Nasional tahun XXI yang dilakukan ke-esokan harinya. Kirab merupakan kegiatan “menyuguhkan” beberapa tumpeng kumplit dengan lauk pauknya ke Telaga Ngebel Ponorogo, sebagai sesembahan kepada alam.
Itulah perjalanan singkat nan asyik yang aku lewati selama berada di Ponorogo. Tentunya atraksi kesenian Reyog pun tak luput dari perhatian.
Sebelum kembali pulang ke kota Bandung, saya menyempatkan diri untuk membeli sedikit oleh-oleh untuk keluarga dan kawan-kawanku yang ada di Bandung. Tak sulit mencari makanan khas Kab. Ponorogo. Cukup datang ke pabrik dodol atau jenang Mirah, yang terletak di Josari-Jetis-Ponorogo, saya sudah bisa menemukan beragam makanan khas lainnya. Seperti brem Maduin, keripik buah Malang, bakpia Jogja, dan masih banyak lagi oleh-oleh lainnya yang menyedot uang saku saya.  Saya yakin anda pun akan puas jika berkunjung kesana, KOREA (Kota Reyog  Asli)- Ponorogo.
Labels: feature

Thanks for reading Festival Reyog Nasional ke- XXI. Please share...!

0 Comment for "Festival Reyog Nasional ke- XXI"

Back To Top